Babs Bunny Tiny Toons

Minggu, 23 September 2012

CERITA SUPER GENERATION


FF SuGen – Valentine’s Day *part 3*


—————————————————- “ Hari pertama Seo Joohyun di sekolah music, sebenarnya eomma khawatir kau tidak akan kerasan disana, kau sangat pemalu sehingga sulit berteman dengan orang-orang baru. Tapi seorang pria kecil yang manis mulai mendekatimu dan mengajakmu berkenalan. Kau tahu Joohyunie? Itu pertama kalinya eomma melihatmu tersenyum dengan manis karena memiliki teman baru. Kau banyak mengobrol dengannya padahal kau selalu menjadi pendiam jika baru kenal dengan orang baru. Ryeowook mengajakmu untuk pulang bersama dengan mobil limosin-nya, kau langsung menerimanya tanpa berfikir dahulu. Tidak seperti anak gadisku yang biasanya sangat cermat dalam mengambil keputusan. Setiap pulang, wajahmu pasti memerah dan setelah itu segera masuk kedalam kamar. Kau juga sangat berapi-api ketika menceritakan tentang pria itu. Masih ingat apa yang kau katakan pada eomma? Kau bilang, eomma, Ryeo oppa seperti pangeran didalam buku dongeng. Apa aku harus berpura-pura mati atau tertidur agar dia menciumku?” cerita eommanya. Seohyun langsung memukul lengan eommany pelan. Wajahnya benar-benar memerah sekarang.
“ Geojitmal, aku tak pernah berkata seperti itu, eomma pasti mengarangnya!. Apa jiwa songwriter eomma sangat kuat hingga suka mengarang cerita seperti itu? kelihatannya eomma berbakat menjadi penulis novel” seru Seohyun.
“ Anio, eomma tidak mengarangnya!. Apa hal itu masih belum bisa membuktikan rasa cinta yang tumbuh dihatimu untuk Kim Ryeowook?” tanya eommanya. Seohyun hanya terdiam. Apakah ia mencintai Ryeowook? Ia dan Ryeowook hanya sahabat, itu hal yang selalu tertanam dalam benaknya. Pertanyaan eommanya benar-benar mengusik hatinya sekarang. Suara klakson mobil membuyarkan lamunan gadis itu. Iapun tersentak kaget dan segera menoleh kearah eommanya.
“ Eomma, eottokhae? Itu pasti Ryeo oppa, ia sudah tiba tetapi aku masih seperti itik buruk rupa” tanya Seohyun panic. Eommanya kembali menyunggingkan senyum gemasnya karena tingkah putrinya. Tangan-tangan lembutnya mulai mendandani Seohyun dengan cekatan.
“ Finish, sekarang kau terlihat lebih cantik dan fresh, Joohyunie” ujar eommanya. Seohyun menatap wajahnya dalam cermin, seulas senyum puas pun terlukis diwajahnya. Iapun memeluk eommanya.
“ Gomawo eomma” ucap gadis itu riang.
“ Cheonma chaggi. Sekarang keluarlah dan temui pangeranmu” canda eomma Seohyun. Seohyun langsung melepaskan pelukannya dan menatap eommanya kesal.
“ Eomma!!. Berhenti mengatakan hal itu, aku malu” omelnya. Wanita paruh baya itu langsung tertawa lepas mendengar omelan putrinya. Seohyun langsung keluar dari kamarnya dan dengan cepat memakai sepatunya lalu berjalan menemui Ryeowook.
“ Oppa?” panggil Ryeowook yang tengah membelakanginya. Mendengar suara Seohyun memanggilnya, pria itu segera berbalik. Tubuhnya terpaku ditempat ketika melihat gadis dihadapannya itu. Jantungnya berdegup keras dibalik rongga dadanya dan ia merasa oksigen disekelilingnya menghilang seketika. Gadis itu…benar-benar berpotensi besar meruntuhkan pertahanan dirinya yang ia bangun dengan susah payah, bertahan untuk tidak memeluk gadis itu, menciumnya, atau mungkin…melamarnya saat itu juga? Entahlah, hal itu yang akhir-akhir ini memenuhi pikirannya, melamar Seo Joohyun. “ Oppa, kenapa diam? Ada yang salah?” tanya Seohyun menyadarkannya kembali dari lamunannya.
“ Ah? Ani’ jawab Ryeowook cepat. Pria itu mengusap tengkuknya pelan. Ia merasakan keringat dingin mengalir menyusuri wajahnya. “ Neo…neomu yeppoyo…”. Ryeowook menghembuskan nafas lega, ia merasa bahagia karena dapat mengatakan hal itu dengan lancar.
“ Eo? G..gomawoyo oppa” balas Seohyun dengan pipi memerah. Keduanya saling menunduk. Perasaan canggung terus menyelimuti keduanya sampai eomma Seohyun tiba dan mulai mencairkan suasana.
“ Annyeong Ryeowook-ah, apa kau akan menjemput Joohyunnie sekarang?” tanya eomma Seohyun.
“ Ne ahjumma. Kami akan berbelanja keperluan konser” jawab Ryeowook semangat.
“ Woaa, aku senang melihat semangatmu menyiapkan konser. Joohyunnie bilang kau baru saja memukau para pengajar dengan lagu ciptaanmu. Aku sudah melihat rekamannya, kau adalah composer berbakat Ryeowook-ah” puji Nyonya Seo. Ryeowook hanya bisa tersenyum malu-malu.
“ Ahjumma berlebihan, aku tak sebaik itu” balas Ryeowook.
“ Anio, aku tak pernah bercanda dalam urusan music. Aku dan appa Joohyun mempertimbangkan keputusan apakah kami bisa mengikut sertakanmu dalam Seo orchestra atau tidak. Tapi apa kau mau, Ryeowookie?”
“ Jeongmalyo? Tentu saja aku mau, ahjumma. Seo orchestra adalah favorit eomma-ku, pasti ia sangat bangga jika aku bisa menjadi anggotanya. Bahkan hanya sekedar berkolaborasi saja sudah membuatku amat bangga”
“ Seo orchestra juga pasti bangga memiliki seniman hebat sepertimu, Ryeowookie” ujar eomma Seohyun sambil menepuk-nepuk bahu pria imut itu. “ Baiklah, bukankah kalian hendak pergi ke Mall bersama? Sepertinya aku terlalu banyak menyita waktu. Ryeowookie, tolong jaga Joohyun kami ya?”
“ Ne ahjumma. Kami pergi dulu” pamit Ryeowook sambil membungkukkan badan lalu menggandeng tangan Seohyun menuju mobilnya.
“ Kau sudah bisa menyetir oppa?” tanya Seohyun ketika mereka telah masuk kedalam mobil. Ryeowook hanya mengangguk singkat.
“ Kau tahu? Kau adalah wanita pertama yang kuajak untuk pergi bersamaku dan merasakan bagaimana rasanya disupiri olehku, bukankah itu artinya kau special?”
***
Hwang Family’s House
Tiffany meletakan kembali peralatan makannya dengan malas. Iapun bergerak meninggalkan ruang makan. Gadis itu sama sekali tidak bernapsu untuk menyantap makan siangnya sehingga harus membiarkannya teronggok diatas piring tanpa disentuh sedikitpun. Minah, kepala pelayan keluarga Hwang langsung menghadang jalan tuan putrinya itu.
“ Stephannie aggasi, kenapa aggasi tidak menyantap makanannya?” tanya Minah prihatin. Tiffany hanya mendesah pelan.
“ Aku tidak bernapsu menyantapnya” jawab Tiffany singkat. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Minah. Wanita tua itu kembali mengejar Tiffany dan kali ini ia mencengkram ringan lengan gadis itu.
“ Tapi aggasi harus makan, aku tidak mau aggasi terkena maag”
“ Aku tidak napsu makan, halmeoni. Jangan paksa aku, OK? Aku ingin kembali kekamar sekarang”. Tiffany menepis tangan Minah dan pergi meninggalkan Minah yang hanya bisa terdiam ditempatnya. Siwon yang menyaksikan kejadian itu dari kejauhan pun berjalan menghampiri Minah.
“ Minah-nim, gwaenchana?” tanyanya khawatir. Minah menatap Siwon berkaca-kaca.
“ Kejar aggasi, Siwon-ah. Aku takut ia pingsan karena belum makan” pintanya. Siwon mengangguk pelan dan mulai berjalan mengikuti Tiffany. Keningnya mengkerut karena bingung ketika Tiffany berjalan melewati kamarnya. Bukankah aggasi ingin kekamar?, tanyanya dalam hati.
Pria itu tetap mengikuti Tiffany, bertahan dalam radius 2 meter dari gadis cantik itu. Tiffany terus melangkahkan kakinya kehalaman belakang. Gadis itu berjalan memasuki taman labirin yang sangat besar di belakang rumahnya yang hampir terlihat seperti istana itu. Tiffany berhenti didepan sebuah menara batu ditengah taman labirin itu. Jemari lentiknya menyentuh relief yang terdapat pada batu itu. Siwon yang bersembunyi benar-benar tersentak kaget ketika menara batu itu bergeser dan memperlihatkan tangga menuju ruang bawah tanah. Omo, keluarga Hwang mempunyai ruang rahasia?, batinnya.
Tiffany mulai berjalan menyusuri tangga itu. Melihat tuan putrinya mulai tak terlihat karena telah turun, iapun berlari mengikutinya. Ia tetap menjaga jarak dengan Tiffany agar aksinya tidak diketahui. Pria tampan itu tidak dapat menutupi ekspresi takjubnya ketika tiba diruang bawah tanah keluarga Hwang. Tempat itu sangat besar, penuh dengan ruangan-ruangan dan beberapa barang antic. Tiffany berjalan menuju ruangan ketiga dari kiri, Siwon pun mengikutinya. Pria itu menatap sebuah peti kayu berwarna putih yang berada diujung ruangan. Tiffany duduk didepan peti putih itu dan memegangnya.
“ Eomma, apa kabarmu?” tanya Tiffany lembut. Untuk kesekian kalinya Siwon tersentak kaget. Eomma? Bukankah nyonya Hwang sudah lama meninggal? Lalu apa maksud semua ini? Atau jangan-jangan…
***
Donghae’s room
Neul Parang Hospital
“ Im Yoona-ssi, bisa kau ceritakan semuanya padaku?” pinta Donghae. Pria itu tengah duduk berhadapan dengan Yoona. Seperti permintaan Kibum, Donghae harus menerapi Yoona, membantu gadis itu untuk kembali seperti dulu. Itu keahlian Donghae sebagai psikologi. Yoona terus saja menundukkan kepala. Tubuhnya gemetar karena takut kepada pria dihadapannya itu, tapi ia berusaha untuk melakukan apa yang diminta oleh Donghae. Yoona ingin sembuh, ia tak ingin memory tentang pria brengsek yang bernama Taecyeon itu terus membayangi kehidupannya.
“ A..aku dan Kibum sudah bersahabat sejak kecil. Kami selalu bersama, nyaris seperti kembar siam yang tak pernah terpisah. Tiba-tiba ia menghilang entah kemana, aku tak berdaya ketika Kim ahjumma mengatakan bahwa ia sudah pergi ke Amerika untuk mengejar impiannya sebagai dokter. Aku tidak tahu harus berbuat apa, aku tidak bisa jika tanpa Kibum disampingku. 3 tahun kuhabiskan dengan kesuraman, tahun-tahun terberat dalam hidupku. Penampilanku…aku nyaris tidak terlihat seperti manusia normal. Untuk melupakan semuanya, aku melarikan diri kepelosok negeri ini. Disana aku bertemu dengan….pria bernama Ok…Ok Taecyeon”. Yoona terdiam sejenak, berusaha untuk mengontrol emosinya agar tak terbawa suasana. “ Taecyeon yang membantuku melupakan semuanya, dia yang menjanjikanku sebuah kehidupan baru yang indah. Ia….memberiku harapan dan cinta yang semu. Semuanya indah sampai akhirnya aku menemukannya bercinta dengan seorang wanita di rumahnya. Kau tahu apa yang dilakukannya terhadapku ketika aku menuntut penjelasan? Dia menamparku sehingga aku tersungkur, ia menendangku, menghempaskan tubuhku ketembok, dan….”. Tangis Yoona mulai meledak, ia tidak dapat mengontrol emosinya lagi. “ Dia mengatakan kalau aku hanya wanita gila yang menjijikan. Bahkan saat wanita itu bertanya siapa aku, dia menjawab ‘tak perlu dipikirkan, dia hanya pelacur murahan yang selalu menggodaku. Kau tenang saja, aku hanya mencintaimu’ dan…dan dia…bercinta dengan wanita itu didepan kedua mataku….”.
Yoona tidak dapat melanjutkan ceritanya, tangisnya menggema diseluruh ruangan. Serpihan hatinya yang hancur dan terkubur dalam-dalam seolah dikoyak kembali dan menancapi jantungnya. Terlalu sakit…
“ Minumlah Yoona-ssi” ujar Sooyeon sambil menyodorkan segelas air. Tapi Yoona malah menepis gelas itu sehingga jatuh dan pecah. Emosinya kembali tidak stabil, ia mulai berteriak dan mengamuk. Donghae langsung mengisyaratkan pada Sooyeon untuk menjauh dari mereka. Sooyeon yang ketakutan hanya dapat mengangguk dan berjalan cepat menuju kursi tempat Donghae bertugas lalu duduk disana.
“ OK TAECYEON, KAU BAJINGAN! MATI KAU!” teriak Yoona histeris. Ia mengeluarkan silet dari saku gaun putihnya dan mulai melukai dirinya sendiri. Donghae sedikit terkejut ketika Yoona menyisingkan lengan panjang gaunnya, terdapat banyak luka sayatan disana. Dengan sigap ia mengambil dan membuang silet itu entah kemana.
“ Yoona-ssi, tenangkan dirimu, Yoona-ssi!” seru Donghae sambil mencengkram bahu Yoona dan mengguncang-guncangnya.
“ JANGAN DEKATI AKU, AKU BENCI LAKI-LAKI!!” teriak Yoona sambil mendorong tubuh Donghae sekuat tenaga, membuat pria itu hampir terjungkal kebelakang. Yoona berlari menuju pintu dan berusaha untuk membukanya. Namun sebelum ia berhasil keluar, Donghae memeluknya dari belakang dan berharap dengan itu Yoona bisa berhenti memberontak.
“ Tenanglah Yoona-ssi” ucap Donghae lembut ditelinga Yoona. Yoona yang tiba-tiba melemas langsung kehilangan kesadaran dan pingsan dipelukan Donghae. Pria itu menoleh kearah Sooyeon yang masih menatapnya dengan tatapan tak percaya. “ Yeonnie, bisa bantu aku?”
Sooyeon langsung bangkit dari kursi Donghae dan mulai membenahi kursi sedemikian rupa sehingga dapat membaringkan tubuh Yoona disana. Donghae membaringkan tubuh Yoona disana lalu menatap Sooyeon dan tersenyum.
“ Kau sangat membantu, Lee Sooyeon” ucap Donghae senang. Sooyeon langsung membalas senyum Donghae.
“ Gomawo, dokter Lee” balas Sooyeon. Donghae sedikit tersentak ketika Sooyeon menyelipkan tangannya disela-sela lengan kekarnya, gadis itu mendekap Donghae dengan erat. Entah kenapa ia merasa tidak suka melihat pria itu memeluk wanita lain. Tubuhnya tergerak untuk mendekap pria itu dengan maksud menghapus bekas-bekas yang mungkin masih menempel ditubuh kekar pria itu…
***
Lotteland
“ Sungmin oppa, ayo kesini” panggil Sunny penuh semangat. Senyum ceria selalu menghiasi wajah gadis cantik itu, membuat Sungmin tidak tega untuk menolak apapun yang diucapkannya. Hari ini Sungmin dan Sunny akan menghabiskan waktu di Lotte Land, sesuai dengan usul Sunny. Tersirat sedikit perasaan menyesal dalam hati pria itu karena telah menuruti keinginan gadis manis itu. Gadis itu…mungkin terlihat manis dan rapuh, tapi dibalik itu semua dia gadis yang pemberani dan nekat.
Sunny dan Sungmin sudah saling mengenal sejak SMP, saat itu Sungmin hanya mengenal Sunny sebagai adik dari Donghae, sahabatnya. Pribadi Sungmin yang manis dan ramah pada semua orang membuatnya disukai banyak orang. Bahkan Sungmin sempat menduduki peringkat teratas pria dengan fans terbanyak, poling yang diadakan OSIS pada saat itu. Banyak gadis yang menggilainya, tapi hanya satu yang tidak. Lee Sunny.
Gadis itu merasa bosan dengan wajah Sungmin yang hampir setiap hari nampak di rumahnya. Tentu saja, Donghae dan Sungmin berteman sangat akrab. Tingkah Sunny yang spontan dan manis membuat Sungmin merasa nyaman berada disamping gadis itu. Sejak saat itu, ia memutuskan untuk menjadi…pria yang selalu mengamati Sunny, memantau setiap perkembangan gadis itu, menjadi saksi hidup Sunny tanpa gadis itu ketahui. Dengan semua yang dilakukan Sungmin, itu sudah cukup menjelaskan bagaimana perasaan pria itu.
“ Kau mau apa lagi Sun? aku lelah” ujar Sungmin berpura-pura malas.
“ Kita naik wahana itu oppa, kajja!” ajak Sunny sambil ber-aegyo. Sungmin menatap malas wahana yang ditunjuk Sunny, matanya membelalak seketika melihat wahana itu. Wahana paling menakutkan baginya, tornado.
ANDWE!!!, jeritnya dalam hati.
***
Park Intelligent Building
Taeyeon menatap Leeteuk kaget. 250 juta won? Hanya? Astaga, apa ia biasa menggunakan uang 250 juga won untuk membeli permen dan coklat sehingga dia bisa mengatakan bahwa 250 juta won itu ‘hanya’?. Bahkan ‘250 juta won’ dan kata ‘hanya’ tidak dapat berada dalam 1 kalimat bersamaan. Leeteuk menyunggingkan senyum sinisnya. Pria itu tampak menikmati keterkejutan yang dirasakan Taeyeon.
“ 250 juta won? Aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Hey, aku bahkan tidak pernah menyentuh uang sebanyak itu. Bisakah kau memberi sedikit potongan harga untukku?” tanya Taeyeon yang berusaha untuk mengadakan acara tawar-menawar harga dengan pria tampan itu.
“ Tch, kau kira mobil itu aku beli dengan cara tawar-menawar? Dan kau pikir harga yang harus kubayar untuk memperbaiki mobil itu juga dilakukan dengan tawar-menawar? Simpan jurus-jurus rakyat jelata-mu itu, nona. Pendirianku tidak akan goyah dengan harga yang sudah kutetapkan itu” jawab Leeteuk dingin. Taeyeon hanya terdiam, mencoba untuk berpikir segala jenis cara dan peluang yang mungkin bisa ditempuhnya untuk membuat pendirian pria itu goyah.
“ Tapi, ahjussi, apakah kau tidak bisa memberi keringanan? Aku tidak bisa membayarnya. Atau…ada cara lain untuk aku melunasinya?” tanya Taeyeon yang masih berusaha tawar-menawar. Leeteuk menatap Taeyeon dari ujung kepala hingga ujung kaki, mencari sebuah kemungkinan yang dapat membuatnya berubah pikiran. Sebuah ide gila terlintas diotaknya.
“ Cara lain? Aku tahu cara lain yang bisa membuatmu membayar semuanya” jawab Leeteuk. Pria tampan itu menggenggam perggelangan tangan Taeyeon. “ Ikut aku”.
Leeteuk menarik Taeyeon masuk kedalam mobilnya dan membawa gadis itu pergi. Senyum penuh kemenangan terus saja menghiasi wajahnya. Ini yang terbaik, mempermainkan gadis ini…kelihatannya menarik. Sudah lama aku tidak punya mainan seperti ini, batin Leeteuk.
***
“ Mwo? Pulang ke rumah sekarang? ada apa appa?” tanya Sooyoung kepada appanya yang tiba-tiba menelponnya. Tidak seperti biasanya appa Sooyoung menelpon.
“ Kami rindu padamu, Sooyoungie. Apa kau tidak merindukan kami?” tanya appa Sooyoung balik. Sooyoung mengusap-usap tengkuknya untuk mengalihkan rasa bersalahnya pada appanya. Seharusnya ia tak perlu bertanya tujuan appanya menelpon, gadis itu memang jarang sekali pulang ke rumahnya yang mewah.
“ Ne, nado bogoshipda appa” jawab Sooyoung dengan nada manis. Appanya tertawa diseberang.
“ Cepat pulang, Sooyoung-ah. Appa sudah teramat sangat merindukanmu, eomma juga telah memasakkan makanan kesukaanmu”
“ Makanan?” tanya Sooyoung dengan nada tertarik. “ Kalau begitu aku akan tiba di rumah lebih cepat dari kereta api tercepat dari Jepang!”
“ Kau ini, selalu bersemangat jika telah menyangkut makanan. Kkeure, sampai bertemu di rumah, Sooyoungie”
“ Ne appa, annyeong!”. Sooyoung memutuskan sambungan teleponnya dan berjalan cepat menuju pintu gerbang. Langkah gadis itu terhenti ketika sesosok pria menghadang jalannya, pria yang membuatnya jengkel setengah mati. Ia menatap risih pria yang tengah tersenyum kearahnya itu.
“ Mau apa kau sekarang? mau mencari gara-gara denganku lagi?” tanya Sooyoung galak. Pria tampan itu hanya terkekeh geli mendengar reaksi dari Sooyoung.
“ Kenapa kau harus marah-marah begitu, Sooyoung-ah? Apa kau tidak tahu bahwa marah-marah dapat menimbulkan kerutan diusia muda?” balas Kyuhyun.
“ Persetan dengan kerutan dan apapun namanya itu, aku tidak peduli!. Sekarang beritahu aku apa maumu” seru Sooyoung. Kyuhyun hanya mengeluarkan evil smirk-nya yang cukup membuat tingkat kewaspadaan Sooyoung meningkat.
“ Hanya menggodamu saja” ujar Kyuhyun santai. Pria itu menarik tangan Sooyoung sehingga membuat tubuh mereka bertabrakkan. Kini Kyuhyun mengarahkan bibirnya pada telinga Sooyoung yang hanya berjarah 3 cm itu. “ Kau tahu, tadi aku baru saja membuat kesimpulan yang gila. Kau wanita yang paling sempurna sepanjang eksistensi hidupku, keren kan? Kau harusnya bangga”. Sooyoung tersentak kaget mendengar anggapan Kyuhyun. Wanita paling sempurna sepanjang eksistensi hidup pria itu? ini gila!. Sooyoung langsung mendorong tubuh Kyuhyun untuk menjauh darinya dan menatap pria itu tajam.
“ KAU GILA!” teriak Sooyoung yang berefek membuat semua orang ditempat itu menatapnya. Sebenarnya tidak juga, gadis itu saja yang tidak tahu bahwa sejak saat Kyuhyun menghadang jalannya, semua orang telah merelakan waktunya untuk sejenak menonton sesuatu yang terjadi didepan gerbang sekolah mereka. Siapa yang ingin melewatkan aksi Cho Kyuhyun, pria paling dingin dan datar serta kaya raya tengah berbicara dengan gadis yang bahkan tidak terkenal sama sekali itu? tentu saja hal itu mengundang kontroversi!.
Sooyoung mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru. Gadis itu kembali menatap Kyuhyun kesal. Perasaan kesal terus saja meluap-uap dihatinya karena dirinya menjadi pusat perhatian dan topic hangat saat itu hanya karena kelakuan namja menyebalkan dihadapannya.
“ Terserah kau saja, tapi itu yang ada dibenakku. Sudahlah, aku harus melakukan hal lain yang mungkin akan sangat penting. Sampai jumpa nanti” ucapnya sambil tersenyum dan melambai kearah gadis cantik itu lalu berjalan meninggalkannya. Gadis itu hanya mendengus pelan.
“ Tch, seolah-olah kita akan bertemu lagi saja” balas gadis itu dingin. Kyuhyun menghentikan langkahnya karena mendengar perkataan Sooyoung sebelum akhirnya kembali berjalan kembali.
***
Yuri dan Yesung hanya terdiam dalam kegiatan masing-masing. Sebenarnya tidak juga, sedari tadi Yesung berusaha menahan diri untuk tidak mengajak gadis cantik itu berbicara. Gengsi pria itu terlalu kuat untuk dikalahkan. Pikiran Yesung mulai bekerja keras untuk menciptakan situasi dimana itu dapat memaksa Yuri untuk mengajaknya berbicara. Pria tampan itu mulai menginjak pedal gas lebih dalam, berharap Yuri akan mengingatkannya untuk mengemudi dengan kecepatan yang wajar tapi kelihatannya sia-sia. Gadis itu sibuk memandangi bunga-bunga ditepi jalan melalui jendela.
Pria itu mulai berdeham dan berpura-pura batuk dengan harapan Yuri akan bersimpati dan memberikannya air atau mungkin permen mint. Yesung mendesah kesal ketika Yuri tetap tidak menunjukan reaksi. Otaknya memunculkan ide lain dan…mungkin ini adalah cara terakhir. Ia mulai menyetir tanpa konsep, berkelak-kelok sesuka hati. Sebenarnya pria itu merasa sedikit takut jika terjadi sesuatu dengan mereka berdua. Apakah berbicara dengan gadis itu begitu penting sehingga dia nyaris mengorbankan nyawanya seperti itu? gadis aneh yang baru ditemuinya kemarin?.
“ Yesung-ssi, ponselmu berbunyi” ujar Yuri tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. Yesung kembali tersadar dari pikirannya akan gadis itu dan mulai merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya. Ia memasang earphone disalah satu telinganya dan mengangkat telpon yang masuk, ibunya.
“ Yoboseo, eomma waeyo?” tanya Yesung pada ibunya yang ada diseberang telepon.
“ Yesung-ah, cepat pulang. Ada sesuatu yang penting” ujar ibunya. Yesung menghembuskan nafas malas.
“ Apa eomma ingin menjodohkanku dengan putri teman-teman eomma lagi?” tanya Yesung to the point. Ibunya langsung tergelak karena perkataan putra sulungnya itu.
“ Anio, ada acara keluarga. Cepatlah pulang” jawab ibunya seusai tertawa.
“ Acara keluarga? Mendadak seperti ini? Tidak biasanya” ujar Yesung curiga.
“ Aku tidak mau tahu, kau harus segera pulang!” tegas ibunya yang mulai risih dengan rasa curiga putra sulungnya yang sedikit berlebihan itu. Yesung mulai kembali memutar otak jeniusnya, mungkin saja ini adalah akal-akalan ibunya untuk menjebaknya dalam acara kencan buta dengan gadis yang sama sekali tidak ia kenal. Ibunya sangat terobsesi untuk menikahkan Yesung.
Kim Jongwoon kita sudah berumur telah berumur 27 tahun dan sudah selayaknya ia menikah, itu yang dipikirkan ibunya. Ibunya selalu menjodohkannya dengan putri rekan-rekan kerjanya dan berharap pria itu menikahi salah satunya, tetapi sepertinya tidak ada wanita yang cukup hebat untuk menjerat hatinya saat itu. Sebuah evil smirk terlukis dari wajah Yesung ketika ide gila muncul diotaknya.
“ Eomma, jika aku membawa seorang gadis dihadapanmu, apakah kau akan menghentikan semua perjodohan gilamu itu?” tanya Yesung tenang. Pria tampan itu melepas earphonenya sejenak ketika ibunya berteriak kaget.
“ Kau akan membawa seorang gadis? Jinja?” tanya ibunya balik.
“ Jika eomma mau, aku akan membawanya kehadapan eomma” jawab Yesung.
“ Baiklah, bawa gadis itu. Aku ingin tahu gadis hebat mana yang telah menjerat hati putra sulungku, dia pasti cantik dan sexy kan, Jongie?” goda ibunya.
“ Terserah ibu sajalah. Aku akan mengajaknya ke acara keluarga, eomma lihat saja. Sudah ya, aku sedang menyetir sekarang. Sampai bertemu di rumah, eomma. Annyeong”. Yesung memutuskan sambungan telepon dan menatap Yuri yang ada disampingnya. Sepertinya saat ini ia harus melawan gengsinya untuk berbicara dengan gadis itu. Dia berdeham sejenak untuk memperbaiki suaranya yang mendadak menjadi disfungsional.
“ Yuri-ssi” panggil Yesung. Yuri menoleh dan menatap manic mata pria tampan itu. “ Apa kau benar-benar akan berbalas budi padaku?”. Yuri menyunggingkan senyum indahnya yang membuat Yesung terpana. Seingatnya ia tak pernah melihat senyum seindah itu, bahkan ibunya sekalipun tidak.
“ Tentu saja. Jadi kita akan makan dimana? Aku yang traktir, sepertinya uangku cukup untuk membeli 4 porsi bulgogi di daerah Myeondong” ujar Yuri semangat.
“ Tidak perlu menraktirku. Apa kau bisa membantuku dalam hal lain?” tanya Yesung. Yuri mengerutkan dahinya karena bingung.
“ Memangnya apa yang bisa kulakukan untukmu?” tanya Yuri balik. Yesung mengusap-usap tengkuknya pelan, ia kembali memicu otaknya untuk menemukan kata-kata yang tepat.
“ Aku tahu ini gila tapi hanya kau yang dapat membantuku. Jadi…maukah kau berpura-pura menjadi kekasihku dan pergi ke acara keluarga bersamaku? Untuk hari ini saja, kumohon”. Yuri tidak sanggup mengatupkan mulutnya mendengar kata-kata Yesung. Astaga, siapa gadis itu sehingga penerus Kim Company yang terkenal dingin dan tidak tertarik pada wanita ini memohon kepadanya untuk menjadi kekasihnya dan pergi ke acara keluarganya? Keluarga kaya pula, Yuri pasti sedang bermimpi terbang ke langit ketujuh!.
“ Kau….memohon padaku untuk menjadi….kekasihmu dan pergi ke acara keluarga bersamamu?”. Yuri menyentuh keningnya, punggung tangannya mencoba merasakan suhu tubuhnya saat ini. “ Tadi pria pemilik sekolah itu dan sahabatku dan….sekarang penerus Kim Company? Aku pasti akan segera menghadapi ajalku, aku benar-benar sakit keras. Atau….jangan-jangan ini pertanda dunia akan kiamat?” cerocos Yuri.
***
Green Light Districk
Night at Las Vegaz
Hyoyeon menatap layar ponselnya dengan penuh perhatian. Gadis itu tengah mengecek data-data yang diberikan atasannya tentang pengedar narkoba kelas dunia itu, Jung Noha. Pria itu adalah incaran Park Intelligent saat ini, dialah otak distribusi narkoba dunia. Pria itu tengah berada di Las Vegaz saat ini, mungkin sedang mencoba mendiskusikan konsep baru dalam pendistribusian narkoba karena merasa terancam. Tentu saja, tindak-tanduk pria itu tengah tercium oleh polisi.
“ Hai” panggil suara seseorang dan menepuk pundak Hyoyeon pelan. Hyoyeon mendongakkan kepalanya, senyuman nampak diwajah cantiknya ketika mendapati Eunhyuk telah duduk dihadapannya dan menatapnya berbinar. “ Ini telat 3 menit 58 detik dari perjanjian, aku minta maaf. Tadi ponselku tertinggal dikamar hotel jadi aku harus kembali mengambilnya”
“ Sebenarnya kau terlambat 4 menit 2 detik tapi kurasa itu bukan masalah besar. Aku sangat bersyukur karena ada yang mau menjemputku” balas Hyoyeon. Eunhyuk menatap Hyoyeon terpana, tidak percaya ada gadis yang memiliki tingkat konsisten waktu yang sama dengannya. Keduanya adalah intelligent, tentu saja dapat menghitung waktu dengan detail.
“ Jadi…harimu menyenangkan?” tanya Eunhyuk. Hyoyeon mengangguk pelan.
“ Lumayan. Kau sendiri bagaimana?” tanya Hyoyeon balik.
“ Sedikit membosankan, aku rasa berada di Korea lebih baik” jawab Eunhyuk sambil tertawa. Hyoyeon meletakkan ponselnya diatas meja dan ikut tertawa bersama Eunhyuk, menertawakan perasaan ‘rindu kampung halaman’ yang menyerang mereka.
“ Tak adalah yang lebih menyenangkan selain berada di rumah sendiri, Eunhyuk-ssi” tanggap Hyoyeon. Eunhyuk melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya.
“ Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 9.10 malam. Jadi, waktu hanya 2 jam lewat 50 menit untuk bersenang-senang hari ini. Mau menikmati Las Vegaz bersamaku, nona Kim?” tawar Eunhyuk sambil menunjuk kearah sepasang kekasih dengan pakaian funky yang tengah memasuki Green Light Districk itu dan mulai menunjukan kemesraan mereka dengan begitu mengumbar.
“ Jadi maksudmu kita harus….mesra?” tanya Hyoyeon polos. Tangan kanan Eunhyuk terjulur untuk mengacak-acak rambut Hyoyeon dengan gemas.
“ Tidak perlu, hanya mencoba bersenang-senang ala warga Amerika” jawab Eunhyuk. Pria itu membuka kancing kemejanya tanpa canggung dan melepaskannya, menyisakan kaus singlet hitam yang melekat ditubuhnya serta cukup memamerkan otot-ototnya yang membuat gadis manapun meneteskan air liur. Hyoyeon membelalakan matanya karena terkejut dengan tindakan Eunhyuk.
“ Eunhyuk-ssi, apa kau gila? Ini tempat umum, bukan kamar pas di butik-butik sehingga kau dapat membuka pakaianmu seenaknya” bisik Hyoyeon panic. Eunhyuk hanya tersenyum mendengar perkataan Hyoyeon. Pria tampan itu memakai jaket jeans-nya dan memakai beberapa aksesoris ditubuhnya, membuatnya terlihat…macho? Entahlah. Hyoyeon merasa jantungnya kembali berdetak cepat. Seusai mengenakan sarung tangan kulit berwarna hitam, Eunhyuk menatap Hyoyeon.
“ Apa aku sudah terlihat seperti berandalan Las Vegaz?” tanya Eunhyuk semangat.
“ Kurasa kau lebih hebat daripada berandalan Las Vegaz” jawab Hyoyeon. Gadis itu mengambil tasnya dan mengoreksi isinya. Ia selalu membawa baju ganti jika sewaktu-waktu dibutuhkan dan sepertinya sekarang pakaian-pakaian itu dibutuhkan. Hyoyeon mengeluarkan tanktop hitam pendek yang mungkin akan memperlihatkan perutnya yang rata, celana jeans pendek, dan jaket kulit berwarna hitam. Gadis itu menatap Eunhyuk yang sepertinya sibuk memperhatikan pakaian ditangan gadis itu. “ Jadi, apa aku boleh berdandan seperti kekasih berandalan Las Vegaz?”
***
Neul Parang Hospital
Yoona membuka matanya berlahan. Kedua mata cantiknya membalas tatapan khawatir dari Kibum yang tengah berada disampingnya. Pria itu menunjukan senyum getirnya dan menjulurkan tangannya untuk mengelus puncak kepala Yoona.
“ Kau sudah sadar, Yoona-ya?” tanya Kibum lirih. Yoona berusaha melemparkan senyumannya pada Kibum.
“ Aku tidak apa-apa, Bum-ah. Kau ini berlebihan sekali” jawab Yoona dengan suara serak. Yoona berusaha bangun dari tidurnya dan langsung memeluk pria tampan itu. Gadis itu menyandarkan dagunya dibahu Kibum, kegiatan yang paling menyenangkan baginya. “ Aku tidak terlalu suka jika kalian memintaku untuk membahas tentang pria brengsek itu”.
“ Pria itu?” tanya Kibum hati-hati, ia tidak mau Yoona kembali kumat hanya karena mendengar nama pria brengsek itu.
“ Hm. Aku akan baik-baik saja jika kalian tidak membahasnya” jawab Yoona. Kibum melepaskan diri dari pelukan gadis itu dan memegang bahu Yoona dengan kedua tangannya. Matanya menatap Yoona dengan tajam.
“ Dia menyisakan trauma yang begitu dalam pada dirimu, Yoona-ya. Aku harus membuang semua trauma itu, aku ingin Yoona yang dulu aku kenal” ujar Kibum. Yoona menggembungkan pipinya dan memalingkan wajahnya. Itu pertanda bahwa gadis itu tidak ingin melanjutkan perbincangan yang terjadi.
“ Yoona yang dulu dan sekarang tidak berbeda. Jadi berhenti memperlakukanku seolah aku sakit jiwa” balas Yoona dingin. “ Asal kau ada disampingku, semuanya akan baik-baik saja”
“ Baiklah jika menurutmu seperti itu. Aku akan menyingkirkan semua trauma itu apapun caranya”
***
Leeteuk’s Apartment
Leeteuk menarik Taeyeon masuk kedalam apartemennya yang luas. Tempat ini disewa oleh Leeteuk agar dia memliki tempat bernaung jika bosan di rumah atau kabur dari ceramahan noona-nya soal perusahaan dan tetek bengeknya. Ia tidak tertarik pada perusahaan tapi apa boleh buat, dia adalah penerus resmi semua itu.
“ Duduk disana” perintah Leeteuk. Taeyeon hanya mengangguk pelan dan duduk disofa yang ditunjuk oleh pria itu. Leeteuk mengeluarkan 2 kaleng cocacola dan sebuah kertas dengan pulpen. Ia duduk disamping gadis itu dan mulai menulis. Taeyeon yang masih bingung dengan apa yang terjadi hanya bisa terdiam. Pandangannya tertuju pada sekaling cocacola yang ada diatas meja. “ Kalau kau mau, minum saja”.
“ Ne, Kamsahaeyo” ucap Taeyeon lalu tanpa canggung mengambil cocacola itu dan meminumnya.
“ Sekarang tanda tanganlah disini” suruh Leeteuk sambil menunjuk ke kertas yang baru selesai ditulisnya. Taeyeon menatap kertas itu penuh tanya.
“ Memangnya itu kertas apa?” tanya Taeyeon polos. Leeteuk menatap Taeyeon tepat dimanik matanya. Entah kenapa pria itu sangat suka menatap mata indah gadis itu.
“ Kertas perjanjian. Bukankah kau bilang tidak bisa membayar ganti rugi atas mobilku?” jawab Leeteuk santai. “ Aku harus mau menjadi pembantuku selama 2 bulan lalu dengan begitu semuanya lunas”
“ Mwo? Pembantumu? 2 bulan? Apa tidak ada cara lain?” tanya Taeyeon dengan ekspresi kagetnya. Leeteuk menyandarkan dirinya pada sandaran sofa lalu menatap ponsel disakunya dengan santai.
“ Cara lain? Bagaimana kalau aku melaporkanmu pada polisi? Itu lebih baik sepertinya” jawab Leeteuk tenang. Taeyeon langsung mengerucutkan bibirnya karena kesal.
“ Kau jahat sekali” kesal Taeyeon. Leeteuk hanya tertawa mengejek.
“ Tch, kau baru tahu? Salah sendiri mencari gara-gara denganku” balas Leeteuk.
“ Hey, tapi jika aku menjadi pembantumu, apa aku juga harus tinggal disini bersamamu?”
“ Tergantung bagaimana mood-ku. Jika mood-ku sedang baik, kau boleh pulang ke rumahmu tapi jika tidak…tentu saja kau harus terus ada disini”. Taeyeon bergidik ngeri mendengar jawaban pria itu.
“ Jika kita tinggal bersama, apa kata orang-orang nanti?”
“ Persetan dengan orang-orang itu. Memangnya penting mendengarkan pendapat mereka? Dasar tukang gossip!. Ah, aku tahu…kau takut terjadi sesuatu kan?”. Taeyeon meringis mendengar tuduhan Leeteuk. Tentu saja, wanita mana yang tidak takut jika harus tinggal bersama pria yang tidak ia kenal?. Leeteuk tersenyum dingin dan mengambil kaleng cocacolanya lalu menenggaknya. “ Kau harus tahu bahwa kau rata dari atas sampai bawah. Apa yang kau miliki sehingga dapat membuat napsuku berkecamuk lalu menyerangmu, hm?”
“ YAK!!”
***
Choi Family’s House
“ Sooyoungie” seru eomma Sooyoung sambil menghamburkan diri kedalam pelukan anak gadisnya. Sooyoung membalas pelukan eommanya dengan erat.
“ Eomma, bogoshippoyo” ucap Sooyoung dengan manja. Eommanya melepaskan pelukan mereka dan menyentuh pipi Sooyoung dengan kedua tangannya lalu mengecup kening gadis itu penuh sayang.
“ Nado bogoshippo, Young-ah. Kenapa tidak pernah berkunjung ke rumah? Apa kau sudah melupakan eomma dan appa?” tanya eommanya. Sooyoung menggeleng cepat.
“ Anio, mana mungkin aku melupakan kalian” jawab Sooyoung. “ Eomma appa saranghaeyo”. Gadis itu mulai menunjukan aegyo-nya untuk meluluhkan hati kedua orang tuanya. Eomma Sooyoung mengacak-acak rambut gelombang Sooyoung dengan gemas.
“ Tapi semua ini dapat menjadi simulasi pelatihan kita jika Sooyoung telah memiliki suami kelak. Kita tidak perlu merasa kehilangan secara berlebihan” gurau appa Sooyoung. Gadis itu langsung memukul pelan lengan appa-nya.
“ Appa ini bicara apa? Suami? Yang benar saja!” omel Sooyoung. Appanya langsung tergelak karena respon putrinya.
“ Arraseo, Sooyoungie. Ayo kita ke meja makan sekarang” ajak appa Sooyoung sambil merangkul pundak putri semata wayangnya itu. Sooyoung tidak dapat menyembunyikan wajah berseri-serinya.
“ Ah, itu kata-kata yang kutunggu sejak tadi” ujar Sooyoung spontan.
“ Oh ya, sehabis ini kau harus berdandan serta memakai pakaian terbaik Sooyoungie”. Sooyoung menatap eommanya bingung.
“ Untuk apa?”
“ Acara dengan relasi kerja appa-mu”. Sooyoung mendengus pelan. Gadis itu tidak terlalu suka dengan acara relasi kerja appa-nya yang mewah, membuang-buang uang menurutnya.
***
Yesung duduk disofa yang disediakan oleh butik berkelas yang ia masuki sembari bermain dengan ponselnya. Mungkin sedikit diralat, bukan bermain ponsel tetapi menge-cek setiap pekerjaannya melalui ponsel. Sebagai pengusaha muda, ia harus terus belajar dan berhati-hati untuk melangkah sehingga tidak hancur, itu semua ia pelajari dari ayahnya.
“ Err…Yesung-ssi” panggil suara seorang wanita. Yesung langsung mengadahkan wajahnya untuk menatap wanita dihadapannya. Untuk beberapa saat Yesung tak dapat menyembunyikan rasa terpukaunya oleh pesona gadis dihadapannya itu. Kwon Yuri telah menyilaukan matanya dengan penampilannya yang sangat menarik saat itu. Gaun putih 10 cm diatas lutut dengan aksen yang begitu mewah serta cukup terbuka dibagian bahu itupun cukup mengekspos tubuhnya yang sexy. “ Aku terlihat aneh dengan gaun ini. Bagaimana jika kita mencoba yang lain?”
“ Ani, gaun ini cantik sekali dikenakan olehmu. Sepertinya penampilanmu dapat menipu semua orang disana” ujar Yesung sambil bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kasir. Iapun menyerahkan kartu ATM-nya. “ Apa kalian tahu salon yang bagus dan berkelas? Aku ingin merombak penampilan gadis ini”
“ Ne, Yesung-ssi. Kau bisa membawa gadismu pergi ke Lollita, mereka menyediakan pelayanan terbaik. Gadismu akan semakin cantik jika keluar dari sana” saran penjaga kasir. Yesung tersenyum mendengarnya.
“ Apa dia terlihat seperti gadisku? Baguslah. Terimakasih atas sarannya” ucap Yesung lalu membawa Yuri menuju salon yang dimaksud kasir tadi.
“ Shireoyo, kau terlalu banyak menghamburkan uang untukku” tolak Yuri ketika Yesung meminta para pelayan salon untuk merombak gadis cantik itu.
“ Ini semua untuk kepentinganku, jadi tidak masalah. Menjadi putri selama sehari, apa kau tak menginginkannya?”. Yuri terdiam mendengar pertanyaan Yesung. Ini impiannya sejak lama, menjadi putri seperti dalam buku dongeng. Tapi, apa itu artinya ia harus menghambur-hamburkan uang orang lain yang bahkan belum ia kenal?. “ Ayolah, nona Kwon!. Kau tak perlu berpikir ribuan kali untuk ini. Semua yang kau dapatkan hari ini adalah rezeki-mu, jadi terima saja, arra?”. Yesung mendorong pelan tubuh Yuri dan membiarkan gadis itu dibawa oleh para pelayan salon.
***
“ Bagaimana penampilanku? Sudah terlihat seperti kekasih berandalan Las Vegaz?” tanya Hyoyeon setelah mengganti pakaiannya dikamar mandi. Eunhyuk tidak bisa memungkiri bahwa ia benar-benar tersihir dengan pesona wanita dihadapannya itu.
“ Kurasa kau kekasih berandalan Las Vegaz yang paling sempurna dimuka bumi” jawab Eunhyuk sambil tersenyum simpul. Hyoyeon terkekeh dan memukul pelan lengan Eunhyuk.
“ Apa kau memang suka menggoda wanita seperti ini?”
“ Tidak juga. Tapi karena kau special, aku mulai kecanduan untuk merayu dan menggodamu”. Eunhyuk menoleh kebelakang dan memperhatikan beberapa pengendara motor berlalu lalang didepan café. Pria itupun tersenyum menyeringai. “ Jadi kau siap bersenang-senang seperti berandalan Las Vegaz, nona Kim?”.
Eunhyuk kembali menatap Hyoyeon yang mengangguk dengan semangat, mengiyakan jawaban pria tampan itu. Eunhyuk pun bangkit dari kursinya dan menarik tangan Hyoyeon keluar dari Red Light Districk. Mereka berjalan kearah seorang pria berandalan dengan motor Harley Davidson ditengah pinggir jalan. Melihat orang asing menghampirinya, pria itu langsung berubah waspada.
“ Apa yang kalian inginkan?” tanya pria itu galak. Eunhyuk melemparkan senyum dinginnya pada pria itu.
“ Pinjamkan motormu ini padaku” ujar Eunhyuk datar.
“ Aku tak akan memberikannya padamu!” seru pria itu.
“ Begitu? Baiklah, kau yang memaksaku melakukannya”. Eunhyuk menarik kerah baju pria itu dan melemparkannya ketanah. Dengan segera ia naik keatas motor itu. Iapun menoleh kearah Hyoyeon yang masih terdiam dalam posisinya, terkejut atas tindakan pria tampan itu. “ Naiklah nona Kim”
Hyoyeon hanya mengangguk pelan lalu naik keatas motor tersebut. Gadis itu reflex melingkarkan kedua tangannya keperut Eunhyuk ketika ia memicu motor itu dengan kecepatan diatas rata-rata. Angin dingin Las Vegaz langsung menerpa tubuhnya.
“ Apa kau harus melakukan hal itu, tuan Lee? Kasihan pria tadi” tanya Hyoyeon dengan suara keras agar dapat terdengar oleh Eunhyuk karena pendengaran mereka hanya dipenuhi suara bising kendaraan lainnya.
“ Kau tenang saja, aku akan mengembalikan motor ini. Aku hanya meminjamnya, kau ingat?” balas Eunhyuk santai.
“ Memang kau tahu kemana motor ini harus dikembalikan? Mengenalnya saja tidak!”
“ Aku mencuri kartu identitasnya tadi. Apa kau tidak menyadari kalau tanganku bergerak merogoh saku celananya tadi?. Lagipula begitulah cara berandalan Las Vegaz bersenang-senang. Nikmati saja, nona Kim”. Hyoyeon hanya mengangguk pelan. Ia mulai memberanikan diri menyandarkan tubuhnya pada tubuh Eunhyuk dan mempererat pelukannya pada pria itu. Tanpa ia ketahui, Eunhyuk tengah tersenyum senang saat itu. Pria itu mulai meminggirkan motornya disebuah jalan sepi didaerah itu.
“ Bagaimana jika kita duduk disini berdua saja? Mencekam tetapi tetap romantis kan?” ujar Eunhyuk sambil menunjukan gummy smile-nya. Hyoyeon mengubah posisi duduknya menjadi menyamping.
“ Aku…menyukaimu” ucap Eunhyuk spontan, membuat Hyoyeon kaget bukan main. Eunhyuk memberanikan diri untuk menatap wajah gadis itu. Ia menarik nafas dalam-dalam.
“ Kau bercanda kan? Jika benar, candaanmu terlalu berlebihan, tuan Lee” balas Hyoyeon sambil tertawa hambar, tawa yang dipaksakan untuk menutupi kegugupannya.
“ Ani, aku tidak bercanda ataupun menggodamu. Ini jujur dari hatiku yang paling dalam, aku menyukaimu. Mungkin kita baru saja saling kenal, tapi itu tidak bisa menjadi alasan untuk cinta tidak bersemi kan?”. Hyoyeon hanya diam mendengar kata-kata pria itu. Dia…pria yang paling spontan dan blak-blakan yang pernah ia temui. Gadis itu tidak bisa memungkiri kalau ia sangat senang mendengarnya.
“ Kau…yakin dengan perasaanmu padaku? Maksudku…mungkin kau salah mengartikan semuanya. Aku bukanlah wanita yang berpotensi menarik perhatian atau minatmu…”
“ Aku tak mungkin salah. Ini…pertama kalinya dan aku tahu apa yang aku rasakan. Aku memang tak pernah berbuat sejauh ini pada gadis manapun. Maaf jika membuatmu terkejut”
“ Aku…aku hanya speechless. Aku minta maaf” ucap Hyoyeon. Eunhyuk menjulurkan tangannya untuk merengkuh dagu Hyoyeon dan menatap gadis itu lembut serta dalam.
“ Izinkan aku….melakukan ini” ijin Eunhyuk dan tanpa menunggu jawaban dari Hyoyeon, ia menyambar bibir gadis itu dan melumatkannya lembut.
Hyoyeon yang sepertinya tersentuh dengan tindakan pria itu pun ikut membalas ciuman Eunhyuk. Ciuman mereka berlangsung cukup lama sampai akhirnya ponsel keduanya berbunyi bersamaan. Mereka langsung melepas ciuman mereka dan tersenyum canggung kemudian mengangkat telepon tersebut. Tak lama setelah menerima telepon, keduanya mengakhiri panggilan tersebut dan saling menatap satu sama lain.
“ Aku harus pulang ke Korea besok pagi” ucap keduanya bersamaan. Menyadari kesamaan ucapan mereka, keduanya mulai tertawa.
“ Sepertinya kita memang berjodoh, nona Kim” ujar Eunhyuk. Hyoyeon tertawa pelan mendengarnya.
“ Mungkin juga. Jadi, bagaimana kalau kita berangkat dengan pesawat yang sama?”
“ Setuju. Jika memang begitu, kita pulang sekarang”. Eunhyuk mulai menaiki motor itu dan menyalakan mesinnya. Hyoyeon turut mengubah posisi duduknya seperti semula.
“ Eunhyuk-ssi, soal perasaanmu tadi…aku…”
“ Aku tak mengharuskanmu menjawabnya sekarang. Aku yakin kau butuh waktu, jadi aku tidak memaksa. Kita pulang sekarang dan….jangan lupa untuk mengembalikan motor ini”
***
Sooyoung merasa sedikit aneh dengan semua ini. Kenapa ayah dan ibunya mendandaninya sedemikian rumit jika hanya ingin menghadiri acara keluarga? Bukankah dandanan yang biasa saja sudah cukup?.
“ Aku tahu kau pasti datang” bisik seseorang ditelinga Sooyoung. Gadis itu langsung berbalik untuk menatap siapa yang mengatakan hal itu. Ia cukup terkejut melihat kehadiran orang itu ditempat yang sama dengannya.
“ Yak, Cho Kyuhyun, apa yang kau lakukan disini?” tanya Sooyoung kaget. Kyuhyun hanya tersenyum manis dan menepuk-nepuk pipi Sooyoung dengan lembut.
“ Neomu yeppo” pujinya. Sooyoung langsung menepis tangan namja itu dan menatapnya tajam.
“ Jawab saja pertanyaanku, babo!” seru Sooyoung kesal.
“ Jadi…apa aku salah jika berada didalam kediamanku sendiri?” tanya Kyuhyun balik.
“ Ini rumahmu? Aku tidak pernah tahu” balas Sooyoung berusaha mengacuhkan namja itu. Namun sayang, daya tarik namja itu terlalu kuat untuk dilawan.
“ Setidaknya sekarang kau sudah mengetahuinya, nona Choi. Ah tidak, mungkin aku harus memanggilmu nona Cho Sooyoung sebentar lagi”
“ Apa maksudmu?”. Kyuhyun menjentikkan jarinya dan seketika itu juga lampu didalam ruangan besar nan mewah tersebut mati. Hanya ada lampu sorot yang terfokus pada keduanya. Kyuhyun menyodorkan tangannya kearah gadis itu. “ Terima tanganku atau kau tidak akan tenang, nona Cho Sooyoung”
Sooyoung mendelik kearah Kyuhyun. Cho Sooyoung? Panggilan macam apa itu? menjijikan!. Pria itu berlaku seolah-olah mereka sudah menikah, membuat Sooyoung merasa mual ketika mendengarnya. Tapi entah kenapa tangannya malah tergerak untuk meraih tangan Kyuhyun dengan sendirinya, membuat pria itu tersenyum puas. Keduanya berjalan beriringan keatas panggung yang ada ditengah ruangan. Sooyoung semakin bingung ketika seorang pelayan menghampiri mereka dengan 2 kotak kecil diatas nampan cantik lalu menyodorkannya pada mereka.
“ Baiklah, berhubung putri tunggal tuan Choi dan putra tunggal tuan Cho telah naik keatas panggung, kita langsungkan saja pertunangan ini” ujar MC acara tersebut. Seketika itu Sooyoung langsung menganga lebar dan menatap Kyuhyun yang tengah terkekeh melihat reaksinya.
“ Cho Kyuhyun, jelaskan apa maksud semua ini. Padaku. Sekarang!” seru Sooyoung pelan dan menekan setiap kata yang diucapkannya. Kyuhyun hanya tersenyum evil kearah gadis itu, tak memperdulikan kata-kata Sooyoung. Ia mengambil salah satu kotak kecil dari nampan itu dan dengan santai meraih tangan kiri Sooyoung kemudian memasangkan cincin didalam kotak itu pada jari manis Sooyoung. Reflex Sooyoung langsung menarik tangannya dan menatap Kyuhyun murka.
“ Bukankah aku sudah bilang akan menjadikanmu sebagai milikku? Apa kau pikir itu semua main-main? Sayangnya aku bukan orang yang suka bermain-main dengan ucapanku” ujar Kyuhyun akhirnya. “ Lebih baik kau cepat memasangkan cincin itu dijari manisku atau keluargamu akan malu setengah mati padamu”
Sooyoung terdiam sebentar, tidak begitu yakin dengan ucapan serius pria itu. Dia sudah tidak waras, itu yang tertanam dalam benaknya. Ia menoleh kearah orang tuanya yang tengah tersenyum bahagia kearahnya. Ia tidak sanggup menyingkirkan senyuman itu tapi…apa semua itu harus dilakukan dengan cara…bertunangan dengan pria dihadapannya?. Sooyoung menghela nafas panjang, ia harus melakukannya!. Diraihnya tangan kiri Kyuhyun dan dipasangkannya cincin itu dijari manisnya. Riuh tepuk tangan bergema diseluruh penjuru ruangan.
“ Kau bajingan, Cho Kyuhyun!” umpatnya dengan suara yang nyaris tak dapat didengar. Ia tidak mau orang tuanya malu karena ulahnya.
“ Aku tak peduli dengan pikiranmu tentangku atau apapun itu. Kau miliki sekarang” balas Kyuhyun santai. Pria itu menarik tangan Sooyoung dan memaksa gadis itu untuk memeluk lengannya. Senyumannya begitu bahagia. Bagus, mungkin dia bisa menjadi actor dimasa depan, kemampuannya bersandiwara begitu mengesankan. Setidaknya semua itu bisa mengelabuhi para hadirin kalau mereka saling mencintai…
***
Yesung dan Yuri melangkahkan kaki menuju rumah besar milik sepupunya itu. Sebenarnya langkah keduanya terasa begitu lambat. Yuri tidak terbiasa dengan sepatu high heels berukuran 10 cm, hal itu sangat asing baginya. Beberapa kali Yesung membantu menopang tubuhnya ketika gadis itu hampir terjatuh.
“ Sebenarnya kau ini wanita atau bukan? Berjalan dengan high heels saja tidak bisa” ejek Yesung. Yuri langsung menatap pria itu kesal.
“ Yak, memangnya itu salahku jika aku tak punya cukup uang untuk membeli sepatu seindah ini?” balas Yuri. Yesung mulai tersenyum tenang.
“ Aku memiliki penawaran menarik, nona Kwon. Bagaimana jika kau menjadi kekasihku? Aku bisa menjamin kehidupanmu setelahnya” tawarnya santai. Yuri mendaratkan sebuah jitakan dipuncak kepala pria tampan itu, membuatnya kaget setengah mati. Tidak pernah ada wanita yang berani melakukan hal itu padanya, bahkan ibunya sekalipun.
“ Kau memang tidak waras!. Bagaimana mungkin pria sepertimu menjadi penerus Kim Company?. Aku benar-benar mengkhawatirkan masa depan perusahaan itu jika kaulah yang terus memimpin”. Yesung mendelik kearah gadis cantik itu. Merasa ditatap begitu horror oleh Yesung, Yuri melemparkan senyum termanisnya.
“ Kau saja yang tidak tahu betapa hebatnya aku dalam memimpin perusahaanku. Jadi, jangan berbicara sembarangan, Kwon Yuri”. Keduanya sudah memasuki ruangan besar nan mewah itu. Yesung mulai merasa dirinya dan Yuri menjadi salah satu pusat perhatian disini. Penerus Kim company yang tidak menaruh rasa ketertarika pada wanita manapun, saat ini malah membawa seorang wanita untuk menghadiri acara keluarganya. Bukankah itu sangat langka?. Pria itu mulai celingukan mencari sosok ibunya. Ia ingin segera mengenalkan Yuri pada orangtuanya. “ Yuri-ssi, bisakah kau menungguku disini selagi aku mencari eomma-ku?”. Yesung menatap Yuri yang sepertinya terfokus pada sepasang pria dan wanita yang tengah ada diatas panggung.
“ Hey, itu…sepupumu Cho Kyuhyun dan….sahabatku kan?” tanya Yuri kaget sambil menunjuk kearah 2 orang yang tengah tersenyum manis pada seluruh hadirin. Yesung ikut memandangi kedua orang itu.
“ Omo, Cho Kyuhyun meminang putri tunggal Choi ahjussi?” seru Yesung yang ikut kaget. Yuri menatapnya bingung.
“ Meminang putri tunggal keluarga Choi? Kau gila? Dia sahabatku Choi Sooyoung”ujar Yuri meralat ucapan Yesung. Yesung membalas tatapan Yuri dengan tak yakin.
“ Sooyoung? Maksudmu wanita yang menghajar Kyuhyun habis-habisan? Jadi dia yang dimaksud Kyuhyun?”
“ Tentu saja, lagipula dia bukan wanita kaya. Bagaimana bisa keluarga Cho yang begitu hebat merestui pertungangan ini?”. Yesung menatap Yuri was-was, merasa ada yang aneh dengan wanita ini.
“ Kau….jangan bilang kau tidak tahu bahwa Choi Sooyoung adalah penerus tunggal perusahaan keluarga Choi? Dia putri tunggal Choi ahjussi”
“ MWO??”
***
“ Donghae hyung!” seru Kibum yang langsung memasuki ruangan Donghae tanpa permisi. Donghae yang sedang berkutat pada arsip-arsipnya mengalihkan tatapannya kearah Kibum.
“ Waeyo, Kibum-ah? Sepertinya kau memiliki sesuatu yang penting untuk dibicarakan denganku? Apa ada hubungannya dengan Yoona?” tanya Donghae tenang. Kibum menganggukkan kepalanya cepat dan duduk dihadapan Donghae.
“ Aku mendapatkan informasi tentang Ok Taecyeon” ujar Kibum menggebu-gebu. Sejak insiden Yoona kemarin, Kibum langsung bekerja keras mencari dimana keberadaan pria brengsek yang mengubah hidup sahabatnya itu.
“ Benarkah? Itu bagus sekali, Kibum-ah!. Kita temui orang itu bersama dengan Yoona, biarkan Yoona melampiaskan semua traumanya pada pria itu. Dengan cara tersebut ia akan sembuh total” tanggap Donghae. “ Kita berangkat sekarang?”
“ Tentu saja, jika kau tidak ada jadwal lain hari ini”
“ Tenang, hari ini aku sedang tidak ada pasien. Lalu bagaimana dengan pasienmu?”
“ Sudah kualihkan kedokter lain. Apa kau akan mengajak Sooyeon? Kemana dia? Aku tak melihatnya hari ini”. Donghae membereskan seluruh arsipnya dan memasukkannya kedalam lemari.
“ Yeonnie tidak datang hari ini. Dia bilang ia ingin tinggal di rumah dan membantu Sunny membersihkan rumah”
“ Baiklah jika begitu. Kita berangkat sekarang. Apa kau tidak keberatan jika kita berada dalam kendaraan yang berbeda? Aku harus membawa Yoona dan…kau tahu kan bagaimana kondisinya? Ia masih trauma pada pria lain?”. Donghae menghampiri Kibum dan menepuk-nepuk pundak namja itu sambil tersenyum manis.
“ Gwaenchana, kau tenang saja”
***
Yoona turun dari mobil Kibum dan menatap pria itu bingung. Untuk apa pria itu membawanya kesebuah taman? Bukankah ia pasien yang belum boleh keluar dari rumah sakit?. Kibum menghampiri Yoona dengan senyum manis andalannya dan mengajak gadis itu duduk dikursi taman tak jauh dari situ.
“ Untuk apa kita kesini, Bum-ah?” tanya Yoona was-was. Gadis itu menatap orang-orang yang berlalu-lalang dengan takut. Kibum mendaratkan tangannya dipuncak kepala Yoona dan mengelusnya berlahan.
“ Cepat atau lambat kau harus kembali ke lingkungan luar kan? Kau tidak bisa mengurung diri terus menerus di rumah sakit. Tempat itu bukan tempatmu seharusnya berada, Yoona-ya” jawab Kibum tenang. “ Bagaimana kalau aku membelikanmu minuman? Tunggu sebentar ya?”. Kibum bangkit berdiri dan hendak berjalan menuju kedai yang tak jauh dari taman tersebut. Belum sempat kakinya melangkah, pria itu merasa tangannya dicengkram erat.
“ Kau…tak akan pergi lama dan meninggalkanku seperti dulu kan? Aku takut kehilanganmu lagi, Bum-ah” ujar Yoona dengan mata berkaca-kaca. Kibum tersenyum lembut dan membelai pipi Yoona dengan jemarinya.
“ Aku hanya pergi membeli minuman di kedai itu, Yoon. Tak akan lama, aku janji” balas Kibum lalu berjalan meninggalkan Yoona. Tanpa gadis itu sadari, diseberang jalan terdapat mobil Donghae yang mengawasinya dari jauh.
Begitulah rencana kedua pria tampan itu. Mereka membiarkan Yoona sendirian dan ketika Ok Taecyeon lewat, gadis itu akan menghampirinya dan melampiaskan semua amarah dan kebenciannya pada pria itu. Kibum telah mencari semua informasi tentang Ok Taecyeon, termasuk kebiasaannya. Taecyeon akan melewati jalan itu pada pukul 15.20 dan itu artinya 2 menit lagi.
“ Im Yoona?” ucap seorang pria jangkung bertubuh kekar dihadapan Yoona. Donghae menatap mereka dengan perasaan was-was. Itu pasti Ok Taecyeon, batin Donghae. Yoona mengadahkan kepalanya dan kekagetan langsung menjalarinya ketika menyadari siapa pria itu.
“ N..neo?” ucap Yoona parau. Pria itu menoleh kearah kanan dan kiri lalu kembali menatap Yoona.
“ Untuk apa kau masih mencariku? Bukankah aku sudah mencampakkanmu? Apa serendah itu harga dirimu?” hardik Taecyeon dengan suara pelan. Yoona mulai mengeluarkan air matanya dan menangis keras, tubuhnya berguncang hebat. Taecyeon merengkuh dagu Yoona dan membuat gadis itu menatapnya. “ Apa lagi yang harus kulakukan untuk menyingkirkanmu? Aku tak mencintaimu sedikitpun, berapa kali harus kukatakan?”. Kibum yang memandangi kejadian itu dari kejauha mulai tersulut emosi. Ia tidak suka cara pria itu memperlakukan Yoona, ia benci melihat Yoona menangis, dan ia tidak sanggup jika hanya melihat mereka dari kejauhan. Kibum pun berjalan menghampiri mereka.
“ Singkirkan tanganmu dari yeojaku, sekarang!” bentak Kibum sambil masih berusaha tenang. Keduanya menatap Kibum. Taecyeon melemparkan senyum sinisnya pada Kibum dan kembali menatap Yoona.
“ Jadi kau sudah memiliki pria lain? Bagaimana wanita gila sepertimu menggodanya?” tanya Taecyeon merendahkan. Yoona langsung mendorong tubuh pria dihadapannya itu dan berlari memeluk Kibum. Tubuhnya bergetar hebat dan tangisnya meledak.
“ Bum-ah, kita pergi dari sini. Aku tidak mau berada disini” pinta Yoona dengan suara serak. Kibum tidak bisa melihatnya seperti ini, ia ingin sekali menghampiri pria itu dan menghajarnya hingga meregang nyawa.
“ Ani, kau akan membiarkannya setelah semua perlakuannya padamu? Beri ia pelajaran, Yoon! Tunjukan bahwa kau bukan wanita lemah yang mengharapkan cintanya. Injak ia dengan kedua kakimu jika kau ingin lepas dari semua trauma-mu” ujar Kibum berusaha memprovokasi Yoona. Gadis itu menggeleng lemah.
“ Aku tidak mau” balasnya.
“ Dan jika begitu, kau tak akan pernah bahagia. Hanya menginjaknya, apa itu susah?”. Yoona mengelan ludahnya dengan susah payah dan melepaskan pelukannya pada Kibum. Pria itu benar, Ok Taecyeon perlu sedikit pelajaran. Yoona berbalik dan berjalan mendekati Taecyeon yang tersenyum sinis.
“ Jadi kau mau aku kembali lagi? Sayangnya ak…ARG”. Yoona meninju wajah pria itu dengan segenap tenaga yang dimilikinya, membuat pria itu terkapar seketika. Yoona menatap wajah Taecyeon dengan penuh kebencian dan mulai menendang tubuhnya sekuat-kuatnya.
“ Kau pikir aku masih menginginkanmu? Kau hanya sampah yang tertinggal dalam batinku dan sekarang waktunya aku membuangnya” seru Yoona. “ Kau….kau pikir aku mencintaimu? Kau hanya pelarianku, aku mencintai pria itu. Jadi singkirkan pikiran konyolmu itu!”. Yoona menginjak perut Taecyeon, membuatnya langsung terbatuk-batuk parah.
“ Kibumie, ayo kita pulang!” ajak Yoona lalu menarik tangan Kibum pergi dari situ. Kibum masih menatap Yoona terpana, tak menyangka bahwa gadis itu memiliki kekuatan yang sangat besar.
“ Kau…keren sekali, Yoona-ya!” puji Kibum.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar